Balikpapan, KaltimRaya.com – Insiden tenggelamnya ekskavator di lokasi proyek pengendalian banjir di Kelurahan Gunung Samarinda Baru (GSB), Balikpapan mengungkap sejumlah persoalan teknis dan nonteknis di lapangan. Proyek lanjutan penanganan banjir yang berada di sekitar RT 01 dan RT 02, di samping kawasan Pasar Segar tersebut diketahui bernilai sekitar Rp46 miliar.
Proyek ini merupakan kelanjutan dari program pengendalian banjir dengan pembangunan kolam retensi (bosem). Sosialisasi kepada pihak terkait baru dilakukan pada 1 April 2026, sebelum pelaksanaan di lapangan dimulai.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kontraktor pelaksana atau pemenang tender (PIMPRO) berasal dari luar daerah. Pada tahap awal, pihak kontraktor telah melakukan mobilisasi alat berat ke lokasi. Namun, ekskavator yang dibawa dilaporkan belum sempat mencapai titik pekerjaan utama dan justru terperosok ke dalam kubangan lumpur di area sekitar lokasi.

“Alat sudah dimobilisasi ke lokasi, tapi belum sampai ke titik pekerjaan. Malah masuk ke kubangan lumpur di sekitar situ,” ujar salah satu sumber, Sabtu (11/4/2026).
Sebelumnya, warga menyebut ekskavator tersebut telah berada di lokasi selama tiga hari sebelum hujan deras turun pada subuh hari. Karena belum dioperasikan, alat berat itu akhirnya tenggelam di tanah yang labil.
“Sudah tiga hari sebelum hujan, alat itu ada di lokasi, tapi tidak dikerjakan. Begitu hujan subuh datang, selesai itu barang, tenggelam di kubangan lumpur dan tidak bisa menyelamatkan diri,” kata seorang warga.
Selain persoalan teknis, proyek ini juga dihadapkan pada kendala akses lahan. Jalur yang direncanakan sebagai akses mobilisasi dan eksekusi pekerjaan di samping Pasar Segar dilaporkan mendapat penolakan dari pemilik lahan setempat.
“Untuk akses jalur di samping Pasar Segar itu, katanya ada penolakan dari pemilik tanah atau warga di sana,” ungkap sumber tersebut.
Saat ini, persoalan tersebut masih dalam proses negosiasi antara pihak kecamatan, kelurahan, serta aparat kepolisian setempat guna mencari solusi agar pelaksanaan proyek dapat berjalan.
“Masih dalam proses negosiasi oleh pihak kecamatan, kelurahan, dan Polsek untuk menyelesaikan persoalan akses itu,” tambahnya.
Sementara itu, Bhabinkamtibmas Kelurahan Gunung Samarinda Baru, Imade, membenarkan adanya kejadian ekskavator tenggelam di lokasi proyek serta memastikan pihaknya turut memantau perkembangan di lapangan.
“Kejadian ekskavator tenggelam itu benar terjadi di lokasi proyek bosem di RT 01 GSB. Saat ini masih dalam penanganan pihak terkait,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, proyek pengendalian banjir tersebut diketahui belum berjalan efektif di lapangan. Pihak kontraktor maupun Dinas Pekerjaan Umum (PU) juga belum memberikan keterangan resmi terkait kendala yang terjadi, termasuk langkah penanganan alat berat yang tenggelam dan penyelesaian masalah akses lahan.* (Ydar)






