Inflasi Balikpapan dan PPU Melandai, BI: Tekanan Harga Semakin Terkendali

Oleh Selasa, 4 Agustus 2026 - 22:38 WIB

BALIKPAPAN, KaltimRAYA.com – Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Juli 2026 menunjukkan tren positif. Meski masih mencatat inflasi, tekanan harga di kedua wilayah tersebut melandai dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, inflasi bulanan Kota Balikpapan pada Juli 2026 tercatat sebesar 0,25 persen (mtm). Sementara Kabupaten PPU mengalami inflasi sebesar 0,28 persen (mtm).

Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 3,06 persen (yoy), sedangkan PPU sebesar 2,34 persen (yoy).

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga di kedua daerah mulai semakin terkendali.

“Tekanan harga yang semakin mereda dan terkendali ini mencerminkan berbagai upaya stabilisasi harga yang dilaksanakan TPID Balikpapan dan TPID Penajam Paser Utara telah memberikan dampak terhadap penurunan harga sejumlah komoditas pangan strategis,” kata Robi Ariadi dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, terkendalinya tingkat harga turut didukung kelancaran pasokan dan distribusi serta terjaganya ketersediaan stok berbagai komoditas pangan strategis.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari penguatan sinergi dan koordinasi pengendalian inflasi daerah antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, TPID, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Berbagai langkah pemantauan harga dan dukungan stabilisasi harga secara konsisten melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, dan Operasi Pasar selama Juli 2026 terus mendukung terkendalinya tingkat harga dan menjaga keterjangkauan harga,” ujarnya.

Balikpapan: Transportasi Jadi Pemicu Inflasi

Untuk Kota Balikpapan, inflasi Juli terutama bersumber dari kelompok Transportasi dengan andil sebesar 0,31 persen (mtm).

Lima komoditas yang memberikan kontribusi inflasi tertinggi yakni bensin, pelumas/oli mesin, bakso siap santap, pemeliharaan/service, dan sawi hijau.

Kenaikan harga bensin terutama dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax (RON 92) oleh Pertamina mulai 10 Juni 2026 menjadi Rp16.650 per liter, dari sebelumnya Rp12.600 per liter.

Sementara kenaikan harga pelumas/oli mesin dipengaruhi masih tingginya harga base oil sebagai bahan baku utama pelumas, yang berasal dari minyak bumi, di tengah meningkatnya biaya produksi.

Harga bakso siap santap juga mengalami kenaikan akibat meningkatnya biaya produksi, termasuk harga bahan baku dan biaya operasional usaha.

Adapun kenaikan tarif pemeliharaan/service kendaraan terjadi seiring meningkatnya biaya operasional bengkel, terutama harga suku cadang dan bahan pendukung, termasuk pelumas.

Untuk komoditas sawi hijau, kenaikan harga dipengaruhi terbatasnya pasokan dan produksi akibat kondisi cuaca yang masih memasuki periode hujan, sehingga berdampak pada peningkatan biaya usaha tani dan harga jual.

Di sisi lain, tekanan inflasi Balikpapan tertahan oleh deflasi dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,15 persen (mtm).

Lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam yakni cabai rawit, tomat, emas perhiasan, bawang merah, dan angkutan udara.

Penurunan harga cabai rawit, tomat, dan bawang merah didukung meningkatnya pasokan seiring memasuki periode panen di sejumlah daerah sentra produksi, terutama Jawa dan Sulawesi.

Sementara harga angkutan udara turun seiring kebijakan penurunan harga BBM jenis avtur oleh Pertamina Patra Niaga untuk penerbangan domestik per 1 Juli 2026 sebesar 14 persen dari periode sebelumnya.

PPU Dipengaruhi Harga Pangan

Berbeda dengan Balikpapan, inflasi di Kabupaten PPU pada Juli 2026 terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,11 persen (mtm).

Komoditas yang menjadi penyumbang inflasi terbesar yakni daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, bensin, dan bahan bakar rumah tangga.

Kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi terbatasnya pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar dari wilayah sekitar PPU. Kondisi tersebut diperkuat kenaikan harga pakan di tengah permintaan Masyarakat yang masih kuat.

Sementara kenaikan harga ikan tongkol dan ikan layang dipengaruhi menurunnya hasil tangkapan nelayan lokal akibat tingginya gelombang laut di perairan PPU dan sekitarnya.

Harga bensin kembali dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax, sedangkan kenaikan harga bahan bakar rumah tangga dipengaruhi penyesuaian harga di tingkat pengecer akibat meningkatnya harga bahan baku energi, biaya distribusi, operasional, dan logistik.

Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan tekanan deflasi di PPU. Komoditas tersebut yakni cabai rawit, tomat, buncis, jagung manis, dan kacang panjang.

Penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura tersebut didukung meningkatnya pasokan seiring periode panen di sentra produksi Jawa dan Sulawesi.

Sementara harga jagung manis turun karena pasokan dari sentra produksi lokal maupun luar PPU meningkat.

BI Waspadai Risiko Kemarau dan El Nino

Meski tekanan harga mulai melandai, BI Balikpapan bersama pemerintah daerah tetap mewaspadai sejumlah risiko yang berpotensi kembali mendorong inflasi.

Salah satunya adalah prakiraan masuknya musim kemarau pada triwulan III 2026 yang berpotensi memengaruhi produksi komoditas pertanian.

Selain itu, potensi dampak El Nino yang lebih kuat juga perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi produksi pertanian di Jawa yang menjadi salah satu daerah sentra produksi dan pemasok bahan pangan strategis bagi Balikpapan, PPU, dan Paser.

“Prakiraan dampak El Nino yang lebih kuat diperkirakan berisiko memengaruhi tingkat produksi pertanian di Jawa sebagai daerah sentra produksi dan pasokan utama bahan pangan strategis,” jelas Robi.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah akselerasi operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada semester II 2026. Peningkatan aktivitas tersebut berpotensi meningkatkan permintaan pangan sehingga menjadi tantangan dalam menjaga kesinambungan pasokan.

GPM Diperkuat, BI Jaga Inflasi Tetap Sesuai Sasaran

Mengantisipasi berbagai risiko tersebut, KPwBI Balikpapan bersama TPID Kota Balikpapan, Kabupaten PPU, dan Kabupaten Paser terus memperkuat sinergi kebijakan pengendalian inflasi serta harga pangan.

Sejumlah langkah dilakukan melalui rapat koordinasi inflasi mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri, rapat koordinasi mitigasi risiko kekeringan akibat musim kemarau, serta penguatan produktivitas komoditas pangan.

BI Balikpapan juga mendorong pelaksanaan TANI CAMP 2026 melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk meningkatkan produktivitas pangan.

Program tersebut diawali dengan penyerahan bibit cabai, tomat, dan terong pada 28 Juli 2026 di Balikpapan.

Stabilisasi harga juga dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di 34 kelurahan di Kota Balikpapan yang berlangsung 20 Juli hingga 17 Agustus 2026.

Sementara di Kabupaten PPU, GPM dilaksanakan pada 14–16 Juli 2026.

“Ke depan, KPwBI Balikpapan akan terus membangun sinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID untuk mendorong implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) secara konsisten, terukur, dan berkesinambungan,” kata Robi.

BI Balikpapan menargetkan inflasi di Balikpapan dan PPU tetap berada dalam sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ± 1 persen.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan sebesar 3,06 persen masih berada dalam rentang sasaran tersebut, sementara inflasi PPU sebesar 2,34 persen bahkan berada di bawah inflasi nasional yang tercatat 2,88 persen.

Kedua angka tersebut juga masih lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 3,31 persen (yoy).

“Sinergi kebijakan pengendalian inflasi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat, termasuk melalui pemantauan dan stabilisasi harga serta penguatan pasokan dan ketahanan pangan daerah,” pungkas Robi. (ydar)