Kapolda Kaltim Ungkap 9.773 Hotspot, 3.358 Hektare Lahan Terbakar

Oleh Senin, 14 September 2026 - 09:02 WIB

BALIKPAPAN, KaltimRAYA.com – Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Endar Priantoro mengungkapkan sebanyak 9.773 titik hotspot terpantau di wilayah Kalimantan Timur sepanjang periode 1 Januari hingga 13 September 2026. Dari jumlah tersebut, ribuan titik terindikasi menjadi titik api dan telah menyebabkan ribuan hektare lahan terbakar.

Hal itu disampaikan Endar saat memberikan sambutan pada Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) Peserta Didik Sespimti Polri Dikreg ke-36, dengan tema “Strategi Mitigasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan”, di Gedung Mahakam Mako Polda Kaltim, Senin (14/9/2026).

Dalam sambutannya, Endar mengatakan kegiatan FGD tersebut menjadi momentum penting bagi peserta didik Sespimti untuk melihat secara langsung berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi di daerah, khususnya terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Saya harap kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari proses pendidikan, pengembangan wawasan dan pembimbingan, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat langsung bagaimana tantangan menghadapi situasi yang dinamis,” kata Endar.

Menurutnya, hasil dari kegiatan tersebut diharapkan dapat melahirkan solusi strategis yang memberikan manfaat nyata bagi Masyarakat sekaligus menjadi bekal bagi para peserta didik ketika menjalankan tugas di lapangan.

Endar menegaskan, karhutla merupakan salah satu persoalan yang memiliki dampak luas. Tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan masyarakat, menurunkan kualitas udara, serta menghambat aktivitas sosial dan ekonomi.

“Karhutla memiliki dampak yang begitu luas, bukan hanya dari perspektif kebakaran saja, tetapi juga kerusakan ekosistem, terganggunya masyarakat, kualitas udara, aktivitas sosial dan ekonomi, hingga berpotensi menimbulkan konflik,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Kalimantan Timur merupakan provinsi strategis dengan wilayah daratan dan kawasan hutan yang luas serta memiliki sumber daya alam yang besar. Kondisi tersebut, kata dia, harus diimbangi dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan perlindungan masyarakat.

“Untuk itu tentunya kita harus menjaga keseimbangan antara pembangunan, kelestarian lingkungan dan perlindungan masyarakat,” tegasnya.

Endar kemudian memaparkan data karhutla di Kaltim. Dari 9.773 hotspot yang terpantau, sebanyak 5.327 titik di antaranya terindikasi menjadi titik api, sedangkan 4.446 titik lainnya bukan titik api. Sementara luas lahan yang terbakar mencapai 3.358,38 hektare.

Kondisi tersebut juga terlihat dalam pelaksanaan Operasi Amanusa II yang berlangsung 26 Agustus hingga 30 September 2026. Dalam periode tersebut tercatat 3.911 hotspot, terdiri dari 2.644 titik api dan 1.267 bukan titik api, dengan luas lahan terbakar mencapai 2.609,27 hektare.

“Artinya, dalam periode operasi itu saja luas lahan terbakar tetap mencakup lebih dari 2.000 hektare,” ungkapnya.

Endar menambahkan, kondisi cuaca turut menjadi faktor yang perlu diantisipasi, terutama dengan adanya fenomena El Nino. Ia berharap kondisi tersebut mulai mereda pada akhir September sehingga potensi karhutla dapat ditekan. (ydar)