Perjalanan Ilmiah ke Hatyai Thai: Malaysia Dipenuhi Imigran Bangladesh

Oleh Rabu, 9 September 2026 - 03:08 WIB

* Bagian Akhir

 

Oleh: Andy Are Evray J

 

 

PENANG, MALAYSIA — ADA  yang menarik saat berada di bandara Internasional Penang, bersilewerannya para pekerja kasar berwajah Bolywood. Awalnya saya kira mereka ini adalah para imigran India, tapi setelah ngobrol-ngobrol barulah ketahuan darimana mereka berasal.

 

Saat itu, saya begitu penasaran pengin menikmati secangkir teh tarik Penang, maka setelah mengurus tiket dan memasukkan koper ke maskapai, saya pun dan rombongan jalan-jalan di sekitar bandara.

 

Maka ketemulah kami dengan sebuah cafe sederhana yang menyajikan berbagai masakan tradisional Malaysia, salah satunya teh tarik.

 

Maka tanpa menunggu lama, saya pun memesan teh tarik dan nasi lemak masakan khusus Malaysia.

 

Setelah ngobrol cukup lama di Cafe tersebut, saya melihat seluruh pelayannya berwajah India dan cuma 1 yang berwajah melayu yaitu di bagian kasir.

 

Maka saat pelayannya sedang kosong melayani pengunjung, saya pun memanggilnya.

Santai menikmati teh tarik

 

Saya tanya :” darimana asalnya ?”

“Bangladesh !”

 

Rajesh demikian akrab dirinya disapa, seorang pemuda Bangladesh yang sengaja datang ke Malaysia untuk mencari kerja karena di negaranya susah untuk mendapatkan pekerjaan.

 

Dia pun menceritakan kalau saat ini ada puluhan ribu imigran Bangladesh yang bekerja sebagai buruh kasar di Malaysia.Dan menjadikan Malaysia sebagai tujuan mencari kehidupan.

 

Rajesh menceritakan apa pun akan dia kerjakan, walaupun dikasih upah kecil. Seperti saat ini dia bekerja sebagai pelayan cafe, dimana upah yang dia terima kecil untuk ukuran Malaysia.Tetapi tetap dia terima demi bisa bertahan hidup.

 

Dari upah kecil itu, Rajesh pun bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung dan ada sedikit untuk dikirim ke keluarga di Bangladesh.

 

Pemerintah Malaysia memang memberikan kesempatan kepada para imigran untuk bekerja di sektor pekerjaan kasar ini karena mereka kekurangan tenaga kerja lokal.

 

Walaupun demikian pihak Malaysia tetap membuatkan peraturan khusus untuk pekerja Imigran lewat izin bekerja supaya mereka tidak berulah yang macam-macam dan keberadaan mereka bisa dikontrol oleh petugas Imigrasi.

 

Setelah mengobrol cukup lama dengan bahasa Inggris berlogat Banglades, Rajesh pun mohon diri untuk kembali melayani tamu cafe.

 

Saya dan rombongan pun akhirnya meninggalkan cafe menuju keberangkatan karena pesawat yang kami tumpangi akan segera berangkat ke Jakarta.(*)