BALIKPAPAN, KaltimRAYA.com – Kinerja perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan yang meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser tetap menunjukkan tren positif pada Triwulan II 2026. Penyaluran kredit mencapai Rp41,51 triliun, atau tumbuh 17,66 persen (year on year/yoy), menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, pertumbuhan kredit yang tetap tinggi mencerminkan optimisme pelaku usaha dan sektor perbankan terhadap prospek ekonomi di tengah ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik.
“Pertumbuhan kredit yang tetap tumbuh positif dan tinggi menjadi faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini juga menunjukkan masih kuatnya optimisme pelaku usaha dan perbankan dalam memandang perkembangan ekonomi daerah ke depan,” ujar Robi dalam siaran pers yang diterima media, Rabu (22/7/2026).

Selain pertumbuhan kredit yang kuat, kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat 2,57 persen, sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 2,47 persen, namun masih jauh di bawah ambang batas aman sebesar 5 persen.
Dari sisi penggunaan, pertumbuhan kredit didorong terutama oleh kredit investasi yang melonjak 44,34 persen (yoy) dengan pangsa mencapai 39,35 persen dari total kredit. Peningkatan ini didorong berlanjutnya investasi proyek konstruksi, hilirisasi industri, dan pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 5,95 persen (yoy) didukung daya beli Masyarakat yang tetap terjaga, sedangkan kredit modal kerja meningkat 3,78 persen (yoy) seiring masih tingginya kebutuhan modal usaha.
Secara keseluruhan, pembiayaan perbankan masih didominasi sektor produktif. Kredit investasi dan modal kerja menyumbang 64,03 persen dari total kredit, sedangkan kredit konsumsi mencapai 35,97 persen.
Berdasarkan lapangan usaha, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor konstruksi dengan pangsa 18,83 persen, diikuti perdagangan sebesar 13,61 persen, dan pertanian sebesar 10,84 persen.
Robi menjelaskan, tingginya penyaluran kredit ke sektor konstruksi sejalan dengan aktivitas pembangunan di wilayah IKN serta proyek hilirisasi industri.
“Pertumbuhan kredit konstruksi mencapai 176,77 persen (yoy), terutama didorong oleh berlanjutnya proyek hilirisasi industri dan pembangunan tahap II IKN. Selain itu, kredit pertambangan tumbuh 50,09 persen dan kredit transportasi serta pergudangan meningkat 8,33 persen karena masih kuatnya aktivitas logistik dan pertambangan,” jelasnya.
Pada sektor UMKM, penyaluran kredit tercatat Rp12,79 triliun, meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar Rp12,75 triliun. Namun secara tahunan, kredit UMKM mengalami kontraksi 0,23 persen (yoy) setelah sebelumnya tumbuh 1,1 persen.
Meski demikian, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit meningkat menjadi 30,80 persen, dari sebelumnya 30,73 persen. Di sisi lain, NPL UMKM naik menjadi 4,2 persen dari 3,9 persen, namun masih berada di bawah batas aman 5 persen.
Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp49,52 triliun, tumbuh 4,15 persen (yoy). Struktur DPK masih didominasi tabungan sebesar 55,65 persen, disusul giro 28,77 persen, dan deposito 15,58 persen.
Perkembangan tersebut turut mendorong Loan to Deposit Ratio (LDR) menjadi 83,82 persen, sedikit meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 83,62 persen.
Robi menegaskan Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan industri perbankan agar fungsi intermediasi berjalan optimal.
“Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan untuk mendorong intermediasi yang optimal dan berkualitas sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” pungkasnya. (ydar)
