Inflasi Balikpapan Naik 0,08 Persen, PPU Capai 0,56 Persen pada September 2026

Oleh Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:45 WIB

BALIKPAPAN, KaltimRAYA.com — Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami peningkatan pada September 2026. Balikpapan mencatat inflasi bulanan sebesar 0,08 persen (mtm), sedangkan PPU mencapai 0,56 persen (mtm).

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan menyebut tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kondisi tersebut dipengaruhi menurunnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi, khususnya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, akibat kondisi cuaca kemarau yang berdampak terhadap produksi pangan.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan mencapai 3,93 persen (yoy), sedangkan PPU sebesar 4,18 persen (yoy). Angka tersebut berada di atas inflasi nasional September 2026 sebesar 3,28 persen (yoy).

Sementara secara tahun kalender Januari-September 2026, inflasi Balikpapan tercatat 2,55 persen (ytd) dan PPU 4,11 persen (ytd). Realisasi Balikpapan masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen, sedangkan PPU telah berada di atas batas rentang sasaran tersebut.

Di Balikpapan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,15 persen (mtm).

Lima komoditas yang memberikan tekanan inflasi tertinggi yakni cabai rawit, kangkung, tomat, tas sekolah, dan jagung manis.

“Cabai rawit, tomat, dan jagung manis mengalami peningkatan harga disebabkan menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan akibat kondisi cuaca kemarau, di tengah masih tetap kuatnya permintaan,” demikian keterangan KPw BI Balikpapan dalam siaran pers, Jumat (2/10/2026).

Sementara kangkung mengalami kenaikan harga akibat menurunnya pasokan petani lokal Balikpapan dan sekitarnya. Adapun harga tas sekolah meningkat karena produsen mengompensasi kenaikan biaya produksi melalui harga jual, di tengah dampak lanjutan meningkatnya permintaan pada tahun ajaran baru.

Di sisi lain, deflasi terdalam Balikpapan berasal dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil 0,06 persen (mtm).

Komoditas yang menyumbang deflasi antara lain ikan layang, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, dan udang basah.

Untuk PPU, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil inflasi sebesar 0,48 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai rawit, tomat, jagung manis, kacang panjang, dan jeruk.

Sebaliknya, deflasi PPU terutama berasal dari ikan tongkol, ikan layang, udang basah, ikan kembung, dan telur ayam ras.

Menghadapi tekanan tersebut, TPID Balikpapan dan PPU terus memperkuat pengendalian inflasi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), Gerakan Pangan Murah, Pasar Murah, dan Operasi Pasar.

Sepanjang Januari-September 2026, TPID Balikpapan telah melaksanakan 104 kali GPM, termasuk 10 kali pada September. Sementara TPID PPU melaksanakan 32 kali GPM/Pasar Murah/Operasi Pasar, termasuk lima kali pada September.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan sinergi dengan pemerintah daerah dan TPID akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

“Ke depan, KPw BI Balikpapan akan terus membangun dan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam wadah TPID, untuk mendorong implementasi GPIPS secara konsisten, terukur dan berkesinambungan,” kata Robi.

Menurutnya, langkah tersebut diarahkan untuk menjaga inflasi daerah tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 serta memperkuat implementasi roadmap pengendalian inflasi daerah 2025-2027. (ydar)