Catatan Tepi Jalan – Yun Darojatun
OIL CITY, begitulah julukan Kota Balikpapan di Provinsi Kalimantan Timur yang terus berlari. Jalan-jalan utama dipercantik, taman-taman ditata, trotoar dibangun lebih ramah bagi pejalan kaki, dan lampu-lampu hias menghiasi malam sehingga kota ini semakin sedap dipandang. Siapa pun yang melintasi, khusunya Jalan MT Haryono hampir pasti akan mengakui bahwa perubahan itu nyata.
Sebagai warga, tentu kita bangga. Balikpapan memang layak menjadi etalase Kalimantan Timur, terlebih kini posisinya sebagai salah satu penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun, sebuah kota tidak hanya dinilai dari kawasan yang paling indah. Ia juga dinilai dari sudut-sudut yang sering terlupakan, tidak terliput.
Beberapa hari lalu, sekitar pukul 09.00 Wita, saya memiliki keperluan ke area Pelabuhan Semayang Balikpapan. Saat kendaraan melintas di depan Pelabuhan tersebut, pandangan seolah dipaksa berhenti. Bukan karena panorama yang memukau, melainkan karena pemandangan yang justru menghadirkan tanda tanya. Kawasan yang dahulu pernah terlihat lebih tertata kini terasa semakin sempit. Deretan pedagang kaki lima memenuhi sisi jalan dengan penataan yang belum rapi. Aktivitas ekonomi memang hidup, tetapi wajah kawasan justru terlihat kurang nyaman dipandang, terkesan seperti dimana gitu?

Padahal, Pelabuhan Semayang bukan sekadar pelabuhan. Di sanalah ribuan orang setiap hari pertama kali menginjakkan kaki di Balikpapan. Kesan pertama tentang sebuah kota lahir dari tempat itu. itu pasti..!
Jangan salah memahami. Catatan ini bukan menyalahkan para pedagang kecil. Mereka sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarga. Mereka tidak layak dijadikan kambing hitam.
Yang patut dipertanyakan adalah, sudahkah ruang kota ini ditata dengan adil? Sudahkah pemerintah, pengelola pelabuhan, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama mencari solusi agar ekonomi rakyat tetap tumbuh tanpa mengorbankan wajah kota?
Pedagang kecil tidak membutuhkan penggusuran. Mereka membutuhkan penataan. Sebab kota yang maju adalah kota yang mampu merangkul ekonomi rakyat tanpa kehilangan keindahan dan keteraturannya.
Balikpapan selama ini dikenal sebagai kota yang bersih, tertib, dan nyaman. Julukan itu jangan sampai hanya berhenti di jalan-jalan protokol. Penataan harus menyentuh seluruh kawasan strategis, terutama gerbang masuk kota seperti Pelabuhan Semayang.
Mungkin inilah saatnya kawasan depan pelabuhan kembali ditata. Bukan sekadar memindahkan pedagang, tetapi menyediakan ruang usaha yang lebih layak, akses pejalan kaki yang aman, lalu lintas yang lancar, dan lingkungan yang bersih.
Sebab pembangunan yang baik bukan hanya menghadirkan beton dan lampu-lampu indah. Pembangunan yang baik juga menghadirkan rasa nyaman bagi Masyarakat dan kebanggaan bagi setiap tamu yang datang.

Balikpapan sudah berada di jalur yang tepat. Tinggal memastikan tidak ada sudut kota yang tertinggal.
Karena wajah sebuah kota bukan hanya tentang apa yang dibangun, melainkan juga tentang apa yang dijaga.
Kita ini tidak menyalahkan pihak manapun, tetapi mengajak semua pemangku kepentingan, Pemerintah Kota, Pelindo, dan para pedagang untuk bersama-sama menata kawasan Pelabuhan Semayang agar tetap menjadi gerbang yang membanggakan bagi Balikpapan. (*)
