Balikpapan, KaltimRaya.com — ANGIN SORE di Komplek Balikpapan Regency berembus pelan, membawa aroma aspal yang agak basah dari sela obrolan. Di blok Kintamani V, kediaman Samhari, pensiunan perusahaan batu bara (PT Kaltim Prima Coal atau KPC menjadi saksi bisu sebuah kepulangan yang tertunda selama empat dasawarsa lebih.
Kamis, 26 Maret 2026, bukan sekadar tanggal di kalender. Bagi segelintir pria yang rambutnya telah memutih dan gigi yang ompong digerus zaman, ini adalah momen “turun mesin” setelah lelah melaju di jalanan hidup yang panjang.
Deru mesin yang menjadi doa. Dahulu, pada tahun 1982, mereka adalah pemuda-pemuda tangguh dari Kelas Mesin (M) 2 STM Pangeran Antasari, Gunung Pasir, Balikpapan. Tangan mereka akrab dengan oli, kunci pas, dan mimpi-mimpi besar tentang masa depan. Setelah lulus, takdir melempar mereka ke berbagai penjuru mata angin. Ada yang tetap setia menghirup udara Balikpapan, ada yang menyeberangi lautan, dan ada pula yang membangun hidup di tepian Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar), daerah terkaya di Kalimantan.
Di ruang tamu Samhari yang hangat, suasana mencair seketika. Sutrisno, yang akrab disapa Ino, datang bersama istri membawa tawa yang masih sama seperti saat di bengkel sekolah dulu.
Syahrani dan Ngatimin —yang menempuh perjalanan dengan sepeda motor dari Samboja—hadir membawa sapaan persaudaraan yang tak luntur oleh jarak.
Ada pula Sudarno, yang meski kini telah menetap di hiruk-pikuk Jakarta, menyempatkan diri “pulang” demi menatap mata kawan-kawan lamanya. Sudarno yang masih berstatus seorang karyawan pabrik pipa hadir bersama istri.
Di antara tawa, ada keheningan yang khidmat saat menatap sosok seorang Normansyah. Ia hadir dengan ketabahan yang luar biasa, terus berjuang sembuh dari stroke yang telah lama mendampinginya. Kehadirannya adalah pengingat bahwa kekuatan sejati bukan lagi soal tenaga mesin, melainkan daya tahan jiwa.
Sajio, Herry Trunajaya dan sang kakak kelas, Ngatimin, melengkapi lingkaran kecil itu. Kehadiran Ngatimin seolah menjadi jembatan sejarah, menyambungkan silsilah kekeluargaan yang bermula di gedung sekolah puluhan tahun silam.
Reuni ini memang kecil secara jumlah, namun akbar secara makna. Di meja hidangan tuan rumah, cerita mengalir deras. Tentang masa-masa sulit mencari kerja dengan ijazah teknik.
Tentang hari pertama membangun rumah tangga. Juga tentang kebanggaan menceritakan anak-anak yang kini sudah dewasa. Dan tentu saja, tentang kebahagiaan sederhana menjadi seorang kakek yang dikelilingi cucu.
Garis-garis di wajah mereka adalah peta perjalanan hidup. Jika dulu mereka sibuk membicarakan presisi putaran mesin, kini mereka bicara tentang presisi kasih sayang dan ketenangan di usia senja.
”Kita mungkin sudah tidak sekuat dulu, tapi persaudaraan ini adalah mesin yang tidak akan pernah mati.”
Saat matahari mulai turun di ufuk Sepinggan, mereka melaksanakan shalat Magrib berjamaah di sebuah masjid komplek. Matahari pun terbenam, namun kehangatan itu tidak lantas dingin. Di Kintamani V, mereka membuktikan bahwa meski dunia berubah dari analog ke digital, persahabatan anak-anak Mesin ’82 tetaplah murni, otentik, dan abadi bersama waktu yang terus berlari detak demi detak.***
