Langkah Perantau di Bawah Terik Matahari Kota Balikpapan

KaltimRaya.com — MATAHARI bagai membakar bumi. Garang tak terperi, namun menjadi cambuk yang melecut punggung. Di atas aspal yang memuai oleh panas, bayangan Wahyudi memanjang, menari bersama debu jalanan yang beterbangan. Pria berusia 25 tahun itu berjalan dengan ritme yang dipaksa—sebuah langkah yang tidak lagi menuntut tujuan, melainkan sekadar menolak untuk berhenti.

​Ia adalah perantau asal Makassar, Sulawesi Selatan yang datang membawa mimpi, namun di Samarinda, Kalimantan Timur memberinya pelajaran pahit tentang khianat. Keringat yang ia peras bersama pekerja lainnya di proyek perumahan—tetesan demi tetesan yang seharusnya menjadi haknya—menguap ke udara, dibawa lari oleh sang perekrut yang tak berhati. Mimpi itu hancur, namun ia tidak punya waktu untuk berkabung. Di rumah sewaan, dapur harus tetap mengepul, dan perut keluarganya adalah prioritas yang tak bisa ditawar oleh kesedihan.

​​Kini, pundak Wahyudi memikul beban yang lebih berat dari semen atau batu bata. Sebuah keranjang berisi aneka keripik tersampir di sana, menjadi satu-satunya tumpuan hidup. Jalanan dari simpang MT Haryono, Balikpapan Selatan hingga kembali lagi ke Kampung Baru, Balikpapan Barat menjadi saksi bisu perjalanannya.

​”Setiap langkah adalah doa. Setiap keripik yang terjual adalah napas bagi anak istri saya, ujarnya saat berada di kawasan Jl BJ BJ, Balikpapan Selatan, Senin, 27 April 2026.

​Di pundaknya yang lain, bukan beban yang terasa berat, melainkan kehadiran. Muhammad Syahril, putra sulungnya yang baru berumur lima tahun, berada dalam gendongannya. Bocah itu adalah kompas dan jangkar; dalam lelahnya yang menyelimuti mata kecilnya, ia adalah alasan mengapa Wahyudi tidak pernah benar-benar merasa lelah.

​​Dunia mungkin melabeli Wahyudi dengan kata “lulusan SMP”, sebuah stigma yang seringkali menutup pintu-pintu kantor dengan kasar. Namun, bagi Wahyudi, pendidikan bukanlah satu-satunya parameter martabat. Baginya, harga diri tidak tertulis di atas ijazah, melainkan di atas peluh yang membasahi kaus biru yang ia kenakan.

​Ia tidak memendam dendam pada nasib. Ketika ditanya tentang pekerjaan, matanya tidak redup; ia masih menatap masa depan dengan kejujuran. “Saya tidak menolak pekerjaan apa pun,” ucapnya lirih. Kalimat itu adalah sumpah setia seorang pria yang menolak untuk tunduk pada keadaan.

​​Wahyudi hanyalah satu dari ribuan potret pejuang di trotoar Balikpapan. Ia adalah antitesis dari pembangunan yang megah—pengingat bahwa di balik semen dan beton, ada nyawa manusia yang sedang berjuang menyambung hidup.

​Saat matahari mulai beringsut turun, Wahyudi terus berjalan, menyisir harapan di setiap tikungan jalan. Langkahnya mungkin goyah, napasnya mungkin memburu, namun semangatnya adalah pilar yang tak tergoyahkan. Di tengah ironi yang menderanya, Wahyudi bukan sekadar berjualan keripik; ia sedang menjahit masa depan keluarganya, satu per satu, dengan benang kesabaran yang tak pernah putus.***

 

Pos terkait